Hari Santri Nasional Tahun 2021 Tiba , Pria Asal Pati Tercatat Pembuatan logo Hari santri

0
22

Suararonggolawe.com – Tuban, M.Shofa Ulul Azmi adalah orang di balik logo Hari Santri Nasional tahun 2021. Pria kelahiran Kabupaten Pati 29 tahun silam ini tercatat sebagai alumni Pondok Pesantren (Ponpes) Langitan, Kabupaten Tuban.

Delapan tahun lamanya ia menimba ilmu di Ponpes Langitan dan menamatkan pendidikan terakhir di Madrasah Aliyah Al Falahiyah. Selama di Tuban, dia aktif di bidang media. Seperti, Majalah Harakah dan Majalah Langitan. Selain itu, dia juga sering menjadi juri lomba desain.

Shofa menceritakan, awal mula ia diminta mendesain logo hari santri. Kala itu ia dan temannya, Hilal dari Pesantren Krapyak Yogyakarta dihubungi pihak Kementerian Agama (Kemenag) RI untuk mendesain logo hari santri. Namun, karena temannya berhalangan, akhirnya ia sendiri yang mengerjakan logo permintaan Kemenag itu.

“Kami dihubungi perwakilan dari Kemenag pusat. Karena teman saya Kang Hilal tidak bisa mengerjakan, jadi akhirnya saya yang mengerjakan logonya. Setelah mempelajari brief dan temanya, akhirnya dapat konsep mentahnya dan siap mempresentasikan logonya,” kata Shofa, Jumat (22/10).

Pria yang kini tinggal di Desa Cebolek, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati ini mengaku sudah kedua kalinya menerima tugas pembuatan logo hari santri. Tahun kemarin dia dan temannya juga diminta membuat logo serupa.

“Tahun kemarin logo hari santri juga dari kami (Shofa dan Hilal) yang memproduksi. Dari 3 desain yang kami kirim, kebetulan karya kang Hilal yang terpilih. Alhamdulillah tahun ini karya saya,” lanjut dia.

Terpilihnya logo buatannya itu, membuat Shofa semakin semangat dan termotivasi lagi untuk mengembangkan kreativitasnya dalam pembuatan logo. Selain itu, ia juga ingin karyanya semakin dikenal luas dan bisa menghiasi ruang publik.

“Setidaknya, selain saya persembahkan untuk teman-teman santri, logo ini saya persembahkan kepada para masyayikh dan teman-teman seperjuangan di Ponpes Langitan, karena dulu saya belajar desain dari Langitan Tuban,” sambungnya.

Menanggapi hal ini, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tuban, Sahid, merasa bangga dan senang sekali ada santri dari Tuban yang karyanya dipakai dan digunakan orang se-Indonesia. Dia berharap, santri-santri yang lain tidak mau kalah dan terus berkarya.

“Kita patut bersyukur dan berbangga hati, ada karya anak bangsa dari pesantren Langitan yang karyanya digunakan orang se-Indonesia,” ujarnya.

Desain logo bertema ‘Santri Siaga Jiwa dan Raga’ memiliki filosofi yang mendalam mewakili karakter seorang santri. Pertama adalah sholat. Santri yang selalu ingat tugas utamanya adalah menghamba, dengan kesadaran kepasrahan kepada Sang Pencipta adalah puncak kekuatan jiwa.

Kedua adalah sujud, simbol di mana ikhtiar dilakukan sungguh-sungguh, dengan Azzam dalam berperang melawan pandemi ini, lalu diakhiri dengan sebuah sikap tawakkal, berserah kepada Sang Maha Pencipta.

Ketiga, kebersamaan. Ini jadi satu ciri dan kekuatan santri. Semangat Al Muslimu Lil Muslimi Kal Bunyani Yasyuddu Ba`duhum Ba`da, santri seperti bangunan yang saling menguatkan satu dengan yang lainnya.

Keempat, semangat. Tak ada santri yang bermalas-malasan. Dengan bekerja keras, segala sesuatu pasti akan tercapai. Dahulu, kita sering berteriak menghafal Mahfudzat, “Man Jadda, wajada”. Siapa yang bersungguh-sungguh, penuh semangat, maka ia akan sampai pada tujuannya.

Satu lagi karakter santri adalah berbagi. Berbagi adalah hal yang niscaya saat menjadi santri, tak ada santri yang lapar, tak ada santri yang bersedih karena kiriman dari orang tua lambat.

Sedangkan, warna Logo HS 2021 adalah gambaran luapan semangat santri dalam berbakti pada negeri, dan semangat menjalankan fungsi-fungsi seorang hamba pada sang Khaliq.

Pewarta : Ipenk / Red / SR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here