Bumi Wali Tuban Terdapat Batu Peninggalan Kerajaan Majapahit

0
132

Suararonggolawe.com – Bumi Wali Tuban terdapat situs yang konon peninggalan zaman Kerajaan Majapahit. Lokasi yang terkenal dengan sebutan Watu (Batu) Gajah ini merupakan saksi bisu penyebaran agama Islam di Tuban 3/04/2021.

Tumpukan bebatuan sekilas mirip gajah itu berada di Desa Bejagung, Kecamatan Semanding, Tuban. Lokasinya sangat dekat dengan jalan raya dan mudah dijumpai masyarakat.

Menurut cerita warga secara turun temurun, ada legenda hingga kisah mistis di balik tumpukan bebatuan besar ini. Salah satunya yang diungkapkan Kades Prunggahan Wetan, Hari Winarko.

Hari yang juga peneliti sejarah dan budaya di Tuban ini mengaku para sesepuh desa menyebut batu-batu mirip gajah besar ini kendaraan atau tunggangan Patih Babat Ketigo atau yang selama ini dikenal dengan Patih Gajah Mada.

Saat itu, Patih Gajah Mada dan para pasukan perangnya hendak menjemput putra mahkota kerajaan Majapahit, Syekh Awaludin. Dikisahkan, Syekh Awaludin sedang belajar memperdalam ilmu agama Islam pada Syekh Abdullah Asy’ari atau Sunan Bejagung Lor di Kasunanan Bejagung.

Syekh Awaludin merupakan putra mahkota Raja Hayam Wuruk. Dia sedang menimba ilmu makrifat dan berbagai ilmu kanuragan. Saat itu, dia enggan pulang ke keraton meski ayahnya menginginkan dia kembali ke kerajaan dan melarang memperdalam ilmu Islam.

Karena menolak dan tak ingin kembali ke kerajaan, diutuslah Patih Gajah Mada bersama pasukannnya untuk membawa pulang putra Mahkota. Syekh Awaludin yang mendengar kabar akan diajak pulang ke kerajaan, akhirnya meminta pertolongan sang guru.

Dengan ilmu kanuragan dan kesaktiannya, Syekh Abdullah Asy’ari membuat pagar gaib agar Kasunanan Bejagung tidak terlihat oleh Patih Barat Ketigo dan pasukannya.

“Konon menurut cerita para leluhur dan para sesepuh, Situs Watu Gajah itu merupakan bukti kesaktian Syeh Abdullah Asy’ari, yang bisa membuat pagar ghoib, sehingga waktu bala pasukan kerajaan Majapahit yang dipimpin Patih Babat Ketigo, tidak bisa melihat Kasunanan Bejagung,” tutur Hari kepada suararonggolawe di lokasi, Sabtu (3/4/2021).

Karena tak bisa melihat apa lagi masuk ke Kasunan Bejagung, gajah-gajah yang ditunggangi Patih Gajah Mada dan pasukannya berhenti di tanah lapang dekat dengan persawahan dan perkebunan warga.

“Lokasi saat ini ada batu mirip gajah-gajah itu, pada waktu Zaman Majapahit merupakan tanah lapang yang terdapat perkebunan dan sawah masyarakat. Pasukan Majapahit itu akhirnya mencari di semak-semak namun juga tidak menemukan sang putra mahkota,” imbuhnya.

Gajah-gajah besar itu ternyata merusak tanaman warga. Akhirnya, masyarakat melaporkan kejadian tersebut ke Mbah Sunan Bejagung. Mbah Sunan Bejagung menjawab jika itu bukanlah gajah, tetapi batu. Berubahlah seketika gajah-gajah itu menjadi menjadi batu-batuan besar.

“Ini ceritanya sekilas tentang Watu Gajah. Terkait kebenarannya kita semua belum tahu. namun dengan perjalanan waktu banyak ditemukan prasasti ada kaitannya dengan cerita tersebut,” tambah Hari.

Sementara pada saat itu juga terjadi adu kesaktian antara Patih Babat Ketigo dengan Syekh Abdullah Asy’ari. Namun karena merasa kalah sakti, Patih Gajah Mada akhirnya tak bisa membawa pulang putra mahkota Majapahit dan melaporkan kejadian ini pada Raja Hayam Wuruk.

Saat Hayam Wuruk tahu jika Syekh Abdullah Asy’ari punya kesaktian yang sangat luar biasa, sang patih akhirnya meminta untuk menjadi santri bersama putra mahkotanya.

“Awalnya putra mahkota kerajaan itu telah menimba ilmu agama Islam, di Syekh Jumadil Kubro, namun karena ingin memperdalam ilmunya, maka dikenalkan oleh Syekh Jumadil Kubro ke Mbah Syeh Abdullah Asy’ariz sehingga dia menjadi santrinya,” lanjut Hari.

Hingga akhir hayatnya, Kanjeng Sunan Bejagung dimakamkan di komplek pemakaman Kasunanan Bejagung Lor. Sedangkan putra Kerajaan Majapahit Syekh Awaludin dimakamkan di Bejagung Kidul dan Patih Babat Ketigo atau Gajah Mada dimakamkan di Prunggahan Wetan.

Diakui Hari, banyak masyarakat meyakini batu tersebut adalah bekas pertempuran Patih Gajah Mada dan Sunan Bejagung Lor. Dalam sejarah, Sunan Bejagung Lor dikenal sebagai seorang kiai atau tokoh agama Islam yang gigih, pandai bergaul, dan mudah diterima semua lapisan masyarakat. Sehingga, membuat putra keraton Majapahit senang dan ingin menimba ilmu dari Kanjeng Sunan Bejagung. “,punkasya.

Editor : Agus P
Sumber : Redaksi*

Tinggalkan Balasan